"Bagaimana manusia membangun hubungan, memberi makna pada pemberian, menjaga kehormatan, dan membuat aturan hidup bersama?"

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang benar-benar final. Masyarakat berubah. Tradisi berubah. Cara orang memberi berubah. Cara orang mengingat pun berubah. Karena itu, hukum Islam terus berhadapan dengan kenyataan sosial yang bergerak.

Pada 18 Agustus 2026, perjalanan itu mengantarkan Suaidi menyandang gelar doktor dengan IPK 3,91 dan mendapat pujian dari sejumlah penguji. Gelar yang menjadi penanda perjalanan, sekaligus awal dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Tompangan adalah teks sosial yang terus ditulis ulang oleh orang-orang yang menjalaninya. Dan mungkin, setelah disertasi selesai, justru di sanalah misterinya bermula.

Sebab sebuah penelitian boleh berakhir di halaman terakhir. Tetapi kehidupan yang ditelitinya terus berjalan. ***