“Terus salah seorang keluarga kami tanya ‘Apakah dari pihak BHC siap untuk mengaku salah dalam kejadian ini?’ dan mereka tidak bisa menjawab. Mereka hanya bilang ‘Ini setelah investigasi internal akan memberikan penjelasan resmi kepada keluarga,” jelas Y.

Di tengah investigasi yang disebut belum rampung itu, seorang pegawai BHC berinisial I justru menyatakan melalui percakapan WhatsApp:

“Yang penting BHC sudah sesuai SOP,” tulis I.

Ia juga menanggapi kematian Dani dengan kalimat, “Iya, sudah nyampek ajalnya,” imbuhnya.

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai penerimaan terhadap kematian. Namun, dalam perkara yang masih menyisakan pertanyaan, ajal dan prosedur medis adalah dua hal berbeda.

Ajal merupakan perkara keyakinan. SOP merupakan rangkaian tindakan yang dapat diperiksa.

Pernyataan I belum membuktikan adanya upaya menutupi sesuatu. Ia bisa saja menyampaikan pendapat pribadi. Tetapi publik berhak mengetahui apakah klaim tersebut mewakili sikap resmi manajemen atau sekadar pandangan seorang pegawai.

Sebab, sehari sebelumnya, Manajer Humas dan Marketing RS BHC, Sandra Rahestri, mengatakan:

“Terkait berita yang sedang beredar, kami dari manajemen belum bisa menyampaikan penjelasan terkait hal ini. Agenda kami pagi ini masih dilakukan investigasi secara internal,” kata Sandra, Rabu (14/10).

Ia juga menyatakan, “Insyaallah bila semua sudah kami investigasi, kami akan melakukan pendekatan dan komunikasi dengan pihak keluarga yang berduka,” ujarnya.