Di luar rumah sakit dan kantor pemerintahan, beredar informasi tentang anjuran seorang pengasuh agar keluarga menerima kematian Dani dengan ikhlas.
Informasi yang dihimpun redaksi juga mengaitkan pengasuh tersebut dengan dugaan kedekatan emosional dengan "orang dalam" RS BHC inisial DUL, selain 2 orang dalam lainnya: inisial DY, dan AW.
Hubungan, bentuk kedekatan, serta maksud pendekatan kepada keluarga ini tentu masih harus dikonfirmasi. Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kedekatan tersebut membuktikan adanya kesepakatan atau konspirasi.
Namun, persoalannya layak diperiksa apabila nasihat untuk menerima takdir muncul ketika keluarga masih mencari penjelasan.
Dalam agama, ikhlas adalah kebajikan. Tetapi ikhlas bukan berarti berhenti bertanya.
Ajal tidak dapat dimajukan atau diundurkan. Namun, tindakan manusia sebelum kematian tetap dapat diperiksa. Keyakinan tentang takdir tidak menghapus tanggung jawab atas kemungkinan kesalahan atau kelalaian.
Keluarga dapat menerima kematian sebagai ketentuan Tuhan sekaligus meminta penjelasan dari rumah sakit. Keduanya tidak bertentangan.
Jika seorang pengasuh mengajak keluarga berdamai dengan kehilangan, itu dapat dipahami sebagai nasihat kemanusiaan. Tetapi jika nasihat tersebut dipakai sebagai alasan untuk menghentikan pencarian fakta, batasnya harus dipersoalkan.
Kedekatan personal bukan bukti kesalahan. Namun, kedekatan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pertanyaan tentang kepentingan dan pengaruh.
Takdir tidak membutuhkan pembela. Tindakan manusia membutuhkan pertanggungjawaban.

