KOLOM, DIMADURA–Ada orang yang mengira hidup ini soal siapa paling manis. Padahal lebah pun tahu, madu tidak lahir dari mulut yang pandai berkata manis, melainkan dari bunga yang rela didatangi berkali-kali.

Madu-madu ara-ara, Madura.

Di tanah yang keras, orang belajar satu hal. Jangan terlalu percaya kepada rasa manis. Sebab yang manis bisa jadi madu, bisa pula gula yang sengaja ditaburkan di atas luka agar sakitnya tampak seperti hidangan.

Ara-ara, lapang.

Lapang bukan berarti kosong. Kadang justru terlalu penuh oleh jejak orang-orang yang datang, berjanji, lalu pergi sambil membawa pulang nama baik kita sebagai oleh-oleh.

Madura juga begitu. Keras di tanah, keras di lidah, tetapi tidak selalu keras di hati. Yang sering keras justru tafsir orang luar terhadap apa yang tidak mereka pahami.

Lucunya, manusia sering sibuk mencari madu pada sarang orang lain, sementara tangannya sendiri sibuk mengaduk-ngaduk gula di gelasnya.

Katanya persaudaraan. Katanya kebersamaan. Katanya demi marwah. Tetapi ketika kepentingan datang mengetuk pintu, persaudaraan mendadak menjadi persyaratan administratif. Harus ada tanda tangan, posisi, jabatan, dan keuntungan.

Di situ, bahasa sering kehilangan makna. Kawan menjadi kubu. Saudara menjadi massa. Musyawarah menjadi panggung. Dan kebenaran, kadang cuma menjadi properti dekorasi.

Maka jangan heran jika orang yang paling rajin bicara tentang persatuan justru paling piawai membelah halaman menjadi dua: kami dan mereka.

Padahal ara-ara itu luas. Cukup luas untuk kita duduk bersama tanpa harus bertanya, “Kamu pihak siapa?”

Barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah semua ini selesai, kita masih mau menjadi manusia yang bagaimana?”

Madura mengajarkan kerasnya karang, tetapi juga hangatnya kopi di beranda. Mengajarkan bahwa harga diri tidak selalu harus diteriakkan. Kadang ia justru tampak dari kemampuan seseorang menahan lidahnya ketika ia punya seribu alasan untuk menyakiti.

Sebab lidah adalah pisau yang aneh. Ia tidak meninggalkan darah di lantai, tetapi bisa meninggalkan luka bertahun-tahun di kepala orang lain.

Di antara madu, ara-ara, serta segala perdebatan manusia, mungkin kita perlu bertanya, “Apa gunanya menang dalam pertengkaran kalau setelah kemenangan itu kita kehilangan semua orang yang dahulu kita sebut saudara?”

Madu-madu ara-ara, Madura.

Yang manis jangan membuat lupa bahwa lebah punya sengat. Yang keras jangan membuat lupa bahwa batu pun akhirnya terkikis air.

Yang merasa paling benar, sesekali perlu berdiri di tengah ara-ara, memandang cakrawala, lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan yang selama ini sedang saya bela mati-matian bukan kebenaran, melainkan ego yang kebetulan pandai berbicara?”

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa lama ia bertengkar. Ia dikenang karena apa yang tersisa setelah pertengkaran itu selesai.

Kalau yang tersisa hanya dendam, mungkin sejak awal kita tidak sedang mencari madu. Kita hanya sedang sibuk memelihara sengat.

***

Bangkal, 2 Oktober 2026