Saat turun dari bus, saya masih mengenakan pakaian ihram. Di punggung saya terdapat tas perlengkapan dengan berat sekitar delapan hingga sepuluh kilogram. Di bagian depan masih ada tas kecil berisi kebutuhan pribadi. Sehingga total beban yang harus saya bawa lebih dari sepuluh kilogram.
Dari titik turun bus menuju kompleks Jamarat, saya harus berjalan kaki sekitar empat kilometer. Langkah demi langkah saya ayunkan di tengah lautan manusia dari berbagai negara. Sesekali saya berhenti mengambil napas. Bahu terasa pegal. Kaki mulai nyeri. Tenggorokan kering.
Tetapi entah mengapa, di dalam hati muncul keyakinan yang sulit dijelaskan. Saya percaya Allah akan memberikan kekuatan.
Dan benar saja. Sedikit demi sedikit langkah itu terasa ringan. Saya akhirnya tiba di Jamarat dan berhasil melaksanakan lontar Jumrah Aqabah pada malam 10 Zulhijah.
Saat melempar tujuh kerikil ke arah jumrah, saya tidak hanya melempar simbol godaan setan. Saya merasa sedang melempar rasa lelah, keraguan, dan seluruh ketakutan yang selama ini menghampiri perjalanan saya.
Alhamdulillah. Semuanya dapat saya lalui.
Setelah itu kami menuju hotel Daerah Kerja Bandara di kawasan Aziziyah. Dari pintu keluar Jamarat kami kembali berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer menuju hotel.
Saat itulah terbersit di kepala saya seakan diri ini seperti seorang prajurit perang, perang melawan ego pribadi namun penuh keyakinan.
Tubuh benar-benar meminta istirahat.
Namun waktu istirahat hanya sebentar.
