Suatu sore, ketika masih bertugas di Madinah pada fase kedatangan, saya baru saja selesai berbicara sekitar lima belas menit melalui telepon dengan istri dan anak saya. Kami saling bertukar kabar seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun.
Beberapa saat kemudian, saat saya sedang makan, telepon kembali berdering.
Istei video call, di ujung sana saya mendapat kabar, "Abi... saya kecelakaan".
Saya terdiam.
Pikiran saya langsung kosong.
Sebagai seorang suami, naluri pertama tentu ingin pulang. Ingin berada di sampingnya. Ingin menggenggam tangannya ketika sedang kesakitan.
Namun saya berada lebih dari delapan ribu kilometer dari rumah. Saya tidak bisa melakukan apa pun. Saya hanya bisa berdoa.
Sore itu saya pun bergegas menuju Masjid Nabawi. Di kota yang menjadi tempat dimakamkannya Rasulullah SAW, saya menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah SWT agar istri saya diberikan pertolongan, diangkat rasa sakitnya, disembuhkan luka-lukanya, dan dipulihkan kesehatannya seperti sediakala.
Tidak ada yang lebih menenangkan selain menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Hari demi hari saya terus mengikuti perkembangan kondisi istri melalui telepon. Alhamdulillah, penanganan medis berjalan dengan baik. Luka-lukanya berangsur pulih, dan perlahan kondisinya kembali membaik.
