Saat mengikuti tes tertulis dan wawancara, telepon dari rumah datang membawa kabar yang membuat hati saya tidak tenang. Anak kedua saya sedang sakit.

Sebagai seorang ayah, naluri saya ingin segera pulang. Ingin berada di samping anak. Namun pada saat yang sama saya sedang berada dalam tahapan seleksi yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.

Hari itu menjadi salah satu hari terberat dalam hidup saya.

Saya berusaha menenangkan hati. Saya selesaikan seluruh rangkaian tes. Setelah itu saya bergegas mencari transportasi agar bisa segera kembali ke Sumenep.

Rupanya ujian belum selesai. Travel yang saya tumpangi tidak berjalan sesuai jadwal. Terjadi keterlambatan hingga perjalanan menjadi jauh lebih lama dari yang seharusnya. Saya hanya bisa memandang keluar jendela kendaraan sambil terus memikirkan kondisi anak di rumah.

Sesampainya di Sumenep, saya hanya sempat beristirahat semalam. Keesokan harinya, anak saya harus dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin menurun.

Di ruang rumah sakit itulah saya kembali belajar tentang arti berserah diri. Saya sadar, ada banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan mempercayakan semuanya kepada Allah SWT.

Saat sedang menjaga anak di rumah sakit, istri saya tiba-tiba berbisik, "kayaknya Abi bakalan lulus." Namun pernyataan itu saya anggap sebagai kalimat penyemangat saja.

Hari-hari berikutnya saya jalani seperti biasa. Saya kembali bekerja sebagai wartawan. Tidak banyak berpikir tentang hasil seleksi. Saya mencoba mengikhlaskan apa pun keputusan yang nantinya diberikan.

Hingga pada akhir Desember 2025, kabar yang tidak pernah saya bayangkan benar-benar datang.