Kini, saya semakin yakin bahwa Allah tidak hanya memilih seseorang datang ke Tanah Suci sebagai Jemaah. Tapi Allah juga memilih siapa yang diberi kesempatan melayani para jemaah. Dan kesempatan itu adalah nikmat yang tidak semua orang dapatkan.
Belum selesai kami menikmati ritme pelayanan di bandara, datang amanah berikutnya. Kami mendapat penugasan baru sebagai Satgas Arafah. Pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Kami harus bersiap menuju puncak ibadah haji, sebuah fase yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji keikhlasan, kesabaran, dan ketahanan fisik setiap petugas.
Di titik inilah saya mulai memahami, bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar bekerja. Menjadi petugas haji adalah perjalanan panjang untuk belajar melayani dengan hati.
Bagian 3: Arafah, Muzdalifah, Mina, Ketika Amanah Menjadi Jalan Ibadah
Memasuki bulan Zulhijah, denyut Kota Makkah mulai berubah. Jalan-jalan semakin padat, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berdatangan, dan seluruh petugas mulai memasuki fase paling menentukan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kami yang sebelumnya bertugas di Daerah Kerja Bandara mendapat amanah baru sebagai Satuan Tugas Arafah. Penugasan itu membawa kami menuju Markaz 49, salah satu markaz yang akan menampung sekitar 3.900 jemaah haji Indonesia dalam 26 tenda.
Pada pagi 7 Zulhijah, kami berangkat menuju Arafah. Begitu turun dari bus, tidak ada waktu untuk beristirahat. Bersama petugas dari berbagai unsur lainnya, kami langsung bekerja.
Di Markaz 49 baru tersapat 3 orang petugas termasuk saya. Satu per satu tenda kami periksa. Pendingin ruangan harus menyala. Kasur harus tersedia. Bantal dan selimut harus sesuai jumlah. Listrik harus berfungsi. Dan toilet harus siap digunakan.
Kami menghitung satu per satu isi setiap tenda. Tidak boleh ada yang terlewat. Meski matahari Arafah begitu menyengat dan suhu udara terus meningkat, tak seorang pun mengeluh. Kami memahami bahwa apa yang kami lakukan hari itu akan menentukan kenyamanan ribuan jemaah saat menjalani wukuf.
