Esok paginya kami kembali bertugas.

Selama hari-hari tasyrik, saya bersama rekan-rekan kembali ke jalur Jamarat untuk membantu mengarahkan jemaah Indonesia yang akan melaksanakan lontar jumrah.

Kami memastikan arus jemaah tetap tertib, membantu lansia yang membutuhkan pendampingan, mengarahkan jemaah yang lupa jalan menuju hotel serta terus berkoordinasi dengan petugas lain agar seluruh proses berjalan aman.

Di sela-sela tugas pelayanan, saya juga menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Pada 12 Zulhijah, saya melaksanakan tawaf ifadah, sa'i, serta lontar jumrah hari ketiga.

Sebagai petugas Daerah Kerja Bandara, kami mengambil nafar awal, karena keesokan harinya, 13 Zulhijah, kami harus segera meninggalkan Makkah untuk kembali menjalankan tugas layanan berikutnya.

Belum selesai menikmati suasana Makkah, kami langsung bergerak menuju Jeddah.

Tidak ada waktu berlama-lama. Tidak ada waktu menikmati euforia setelah berhaji. Masih ada puluhan ribu jemaah Indonesia yang harus kami layani untuk kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Saat itulah saya benar-benar memahami makna pengabdian. Menjadi petugas haji berarti mendahulukan kepentingan jemaah di atas kepentingan pribadi.

Kami memang datang ke Tanah Suci untuk juga berhaji. Namun selama bertugas, ibadah terbesar justru kami rasakan ketika membantu orang lain agar dapat beribadah dengan lebih baik.

Dan di tengah semua pengabdian itu, Allah kembali menguji saya dengan sebuah cobaan yang jauh lebih berat daripada rasa lelah dan perjalanan Panjang; sebuah kabar dari Tanah Air membuat hati saya seketika runtuh.