Setelah seluruh perlengkapan dipastikan lengkap, kami melanjutkan pekerjaan berikutnya, yaitu menempelkan daftar nama jemaah di setiap tenda. Tujuannya sederhana tetapi sangat penting: agar saat jemaah datang pada 8 Zulhijah, mereka langsung mengetahui tempat masing-masing sehingga tidak terjadi kekacauan.
Malam harinya, Markaz 49 Arafah baru mendapatkan tambahan personel empat orang dari Makkah.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Pada 9 Zulhijah, jutaan manusia berada di Padang Arafah. Ribuan jemaah Indonesia yang berada di Markaz 49 mulai menjalani wukuf, puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Di tengah kekhusyukan mereka berdoa, kami tetap siaga. Ada yang mengatur distribusi layanan, membantu jemaah yang membutuhkan, mengarahkan lansia, hingga memastikan seluruh kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Menjelang matahari terbenam, tugas kami justru semakin berat. Begitu waktu wukuf selesai, ribuan jemaah harus segera bergeser. Sebagian menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum melanjutkan ke Mina. Sebagian lainnya, terutama jemaah lanjut usia dan risiko tinggi, mengikuti skema murur, yaitu langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah. Proses itu berlangsung hingga larut malam.
Kami terus berdiri di tengah arus manusia yang bergerak tanpa henti. Rasa lapar, haus, dan lelah seolah tidak lagi terasa karena pikiran kami hanya tertuju pada satu hal: memastikan seluruh jemaah berangkat dengan aman.
Sekitar pukul dua belas malam, ketika bus terakhir telah meninggalkan Arafah, tugas kami ternyata belum selesai. Kami ternyata masih harus kembali menyisir 26 tenda di Markaz 49.
Satu demi satu kami masuki. Kami harus memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal. Tidak ada lansia yang tertidur. Tidak ada barang penting yang tercecer.
Barulah setelah benar-benar yakin seluruh tenda kosong, kami ikut rombongan bus terakhir menuju Mina. Di situlah tantangan pribadi saya dimulai.
