Saya adalah saksi kecil dari semua itu.

Seorang wartawan dari Kabupaten Sumenep, Madura, yang tidak pernah bermimpi menjadi petugas haji, tetapi justru dipanggil Allah untuk menjadi bagian dari pelayanan ibadah haji tahun 1447 Hijriah.

Kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, “apa yang paling berharga dari seluruh perjalanan ini?”

Jawabannya bukan karena saya berhasil berangkat ke Tanah Suci. Bukan pula karena saya berhasil menjadi petugas haji.

Yang paling berharga adalah keyakinan bahwa pertolongan Allah benar-benar nyata.

Setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan tidak pernah sia-sia. Setiap ujian pasti membawa hikmah. Dan setiap langkah yang diniatkan untuk melayani tamu-tamu Allah akan selalu dijaga oleh-Nya.

Semoga apa yang saya alami menjadi pengingat bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika Allah telah berkehendak.

Semoga kisah sederhana ini dapat menjadi penyemangat bagi para wartawan daerah, bagi para petugas pelayanan, bagi anak-anak muda yang sedang berjuang, dan bagi siapa pun yang sedang menanti takdir terbaik dari Allah SWT.

Karena pada akhirnya saya percaya, hidup bukan tentang seberapa hebat kita merencanakan masa depan.  Hidup adalah tentang seberapa siap kita menerima rencana terbaik yang telah Allah siapkan.

Dan ketika semua itu terjadi, kita hanya bisa tersenyum, bersyukur, lalu mengucapkan satu kalimat yang menjadi judul perjalanan hidup ini.