Pagi-pagi, saat saya jalan santai bersama anak pertama, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari Kemenhaj. Saya dinyatakan lulus.

Rasanya sulit menggambarkan perasaan saat itu.

Bahagia.

Terharu.

Tidak percaya.

Saya membaca pengumuman itu berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa saya tidak salah melihat nama.

Saya bersujud syukur.

Di dalam hati saya berkata, “ya Allah, benarkah Engkau memilih saya?”

Saya yakin, kelulusan itu bukan semata-mata karena kemampuan saya. Ada doa orang tua yang tidak pernah putus. Ada doa istri yang selalu menguatkan. Ada doa anak-anak, keluarga, para sahabat, rekan-rekan wartawan di Sumenep, dan semua orang yang diam-diam berharap saya mendapat kesempatan itu.

Bagi saya, menjadi petugas haji bukanlah sebuah prestasi. Ini adalah amanah. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Allah SWT.