Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi saya.
Saya menyadari bahwa setiap amanah selalu memiliki konsekuensi. Menjadi petugas haji berarti harus rela berjauhan dengan keluarga, menahan rindu, bahkan menghadapi ujian ketika orang-orang tercinta sedang membutuhkan kehadiran kita.
Namun saya juga belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berserah diri.
Fase Kepulangan Gelombang 2 Madinah
Setelah fase pemulangan di Jeddah selesai pada 15 Juni 2026, kami kembali bergeser ke Madinah. Mulai 16 Juni hingga akhir operasional haji, Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz menjadi pintu kepulangan jemaah gelombang kedua.
Aktivitas kembali berlangsung tanpa henti.
Kami menerima kedatangan jemaah dari hotel, membantu lansia turun dari bus, mendorong kursi roda menuju paviliun, memeriksa barang bawaan, mengarahkan mereka ke terminal keberangkatan, hingga memastikan seluruh proses berjalan tertib sebelum pesawat lepas landas menuju Indonesia.
Setiap hari saya melihat senyum para jemaah. Ada yang memeluk petugas sambil mengucapkan terima kasih. Ada yang berkaca-kaca karena akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima. Ada pula yang hanya mengangkat kedua tangan sambil mendoakan kami.
Doa-doa sederhana itulah yang menjadi penyemangat di tengah rasa lelah yang tak lagi bisa dihitung.
Kini, ketika seluruh rangkaian tugas hampir selesai, saya sering merenung.
