Bagian 4: Doa di Masjid Nabawi dan Sebuah Takdir yang Mengubah Hidup
Perjalanan kami belum selesai.
Pada 14 Zulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Mei 2026, rombongan Petugas Daerah Kerja Bandara meninggalkan Makkah menuju Jeddah.
Tidak ada waktu berlama-lama menikmati suasana setelah puncak ibadah haji. Keesokan harinya, 1 Juni 2026, fase pemulangan jemaah gelombang pertama melalui Bandara Internasional King Abdulaziz resmi dimulai.
Rutinitas kembali berulang.
Sejak pagi kami sudah berada di bandara. Sebagai petugas Media Center Haji, tugas saya adalah mendokumentasikan dan memberitakan proses kepulangan jemaah Indonesia. Namun seperti pada fase-fase sebelumnya, pekerjaan saya tidak berhenti pada kamera HP.
Setelah liputan selesai, saya kembali bergabung dengan teman-teman dari berbagai bidang tugas. Kami membantu menerima kedatangan jemaah dari Makkah, mengarahkan mereka menuju paviliun, mendampingi para lansia yang menggunakan kursi roda, meski cuaca Jeddah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, hingga memastikan seluruh barang bawaan sesuai ketentuan maskapai penerbangan.
Banyak jemaah yang sudah tampak lelah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Namun di wajah mereka terpancar kebahagiaan karena sebentar lagi akan kembali berkumpul dengan keluarga di Indonesia.
Melihat wajah-wajah itu, saya sering teringat keluarga sendiri. Terutama istri dan anak-anak yang selama berminggu-minggu hanya bisa saya sapa melalui panggilan video.
Ujian yang tidak pernah saya bayangkan
