Dalam kesempatan itu Jokowi menjelaskan secara terbuka tujuan perjalanannya. "Kalau untuk PSI saya ingin memberikan motivasi, kemudian juga memberikan pesan-pesan pentingnya struktural di PSI ini segera komplet, sehingga menjadi sebuah mesin politik yang besar," kata presiden dua periode itu.
Kalimat tersebut hampir tidak menyisakan ruang tafsir. Di satu sisi, kita sepakat, mesin politik tidak dibangun untuk hari ini. Mesin politik dibangun untuk pertandingan berikutnya.
Ya, pertandingan berikutnya itu bernama Pemilu 2029.
Pertanyaan pentingnya sekarang adalah, apakah Jokowi sedang membangun kendaraan politik baru? Lanjut ke pertanyaan lebih ke dalam: Siapa sebenarnya, yang nanti akan mengendarai kendaraan tersebut?
Warisan Kekuasaan Menuju Pewarisan Pengaruh
Selama sepuluh tahun terakhir, Jokowi membangun salah satu modal politik terbesar dalam sejarah demokrasi pasca reformasi.
Popularitas. Jaringan birokrasi. Kedekatan dengan pemilih kelas menengah dan akar rumput. Relasi dengan kepala daerah dan, pengaruh yang melampaui batas partai politik.
Masalahnya, pengaruh politik jarang bersedia ikut pensiun bersama jabatan. Ia biasanya mencari rumah baru. Mencari saluran baru. Mencari bentuk baru.
Atas itu, pastinya banyak pihak melihat PSI sedang dipersiapkan menjadi rumah baru itu.
Coba kita lihat komentar Ketua DPP PDIP Guntur Romli, sebagaimana dilansir Detik.com, Jumat (26/6/2026). Di situ, ia menilai safari Jokowi sebagai bagian dari proyek politik jangka panjang untuk keluarga Jokowi.

