"Itu kampanye politik untuk 2029, buat pemenangan anak-anaknya dia. Gibran yang kemungkinan besar tidak bersama Prabowo lagi. Dan meloloskan PSI yang diketuai oleh Kaesang."

Di situ bahkan Guntur menguatkan pernyataannya dengan kalimat terbuka ini, "Juga untuk kepentingan Pilpres 2029 buat Gibran, bukan buat Prabowo," tegasnya.

Tentu saja, tudingan tersebut dapat diperdebatkan. Akan tetapi, pembaca barangkali sepakat, bahwa politik tidak hanya hidup dari fakta. Politik juga hidup dari persepsi. Dan persepsi publik, mulai membaca pola yang sama.

Di satu sisi, terdapat Gibran Rakabuming Raka di kursi wakil presiden.

Di sisi lain, terdapat Kaesang Pangarep di kursi ketua umum PSI.

Di tengah keduanya, terdapat Jokowi dengan pengaruh politik yang masih sangat besar.

Jika ketiganya bergerak dalam orbit politik yang sama, publik tentu berhak bertanya: Apakah ini sekadar regenerasi politik biasa? Ataukah sedang berlangsung proses institusionalisasi pengaruh keluarga dalam politik nasional?

PDIP dan Pertarungan atas Warisan Politik

Perpisahan Jokowi dan PDIP tampaknya telah melewati fase emosional. Yang tersisa sekarang adalah perebutan legitimasi politik.

PDIP memiliki alasan historis untuk mengklaim bahwa Jokowi lahir dari rahim partai.