Oleh: Soemarda Paranggana
OKARA, DIMADURA—Ada lukisan anak yang menarik karena keterampilannya. Ada pula yang menarik karena sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Yaitu, cara anak melihat dunia!
Cover di atas termasuk yang kedua. Lukisan karya Syifa, siswi SDIT Al-Hidayah.
Pada pandangan pertama, kanvas ini tampak seperti gambar tentang sebuah kota. Musala di kiri, gedung Bank BPRS Bhakti Sumekar di tengah, sekolah di kanan, keluarga di bagian depan, bendera Merah Putih, pepohonan dan dua tempat sampah.
Warna merah mendominasi hampir seluruh bidang. Bangunan-bangunan berdiri besar, tegak, dan relatif bersih dari gangguan kehidupan sehari-hari.
Menariknya, jika lukisan ini dibaca lebih lama, ia berhenti menjadi sekadar gambar lingkungan. Ia berubah menjadi sebuah gagasan tentang Sumenep dan, di titik itulah, keberadaan Bank BPRS Bhakti Sumekar menjadi jauh lebih menarik dibaca sebagai bukan objek arsitektur.
Gedung Bhakti Sumekar di Pusat Lukisan
Dalam struktur lukisannya, Syifa meletakkan gedung BPRS Bhakti Sumekar di titik pusat pembacaan. Melihatnya, kita seolah sedang diajak mengenal makna Bhakti Sumekar sebagai beban simbolik yang menarik.
Entah, apakah karya ini adalah murni kehendaknya melukis Kota Sumenep, ataukah memang pesanan dari orang di BPRS Bhakti Sumekar. Kita abaikan saja terkaan ini.
Coba kita telisik saja apa makna dan filosofi frasa "Bhakti Sumekar" yang, entahlah sengaja atau tidak, Syifa letakkan ia sebagai pusat latar lukisannya.
"Bhakti", lazim dimaknai sebagai pengabdian atau kecintaan. Sementara "Sumekar", sebagaimana ditelusuri dalam kajian kebahasaan Jawa, berasal dari kata sekar dengan sisipan -um-, yang melahirkan pengertian "mekar", "mengembang", "berkembang".
Jika kedua kata itu dibaca secara puitis, "Bhakti Sumekar" dapat terdengar seperti pengabdian yang membuat sesuatu tumbuh dan berkembang.
Saya kira, frasa itu memang cukup menarik ditempatkan di tengah lukisan Syifa. Bank berdiri di pusat kanvas. Bukan musala. Bukan sekolah. Bukan keluarga. Malah, bangunan dan nama bank milik daerah.
Namun jangan tergesa menyimpulkan bahwa Syifa sedang memuliakan uang. Justru sebaliknya. Ia menempatkan bank sebagai salah satu simpul kehidupan daerah, tempat ekonomi bergerak, masyarakat berurusan dengan kebutuhan hidup, dan cita-cita tentang kesejahteraan diberi bentuk institusional.
Secara historis pun, BPRS Bhakti Sumekar memang bukan institusi yang tumbuh terlepas dari daerah. Pemerintah Kabupaten Sumenep mengakuisisi PT BPR Dana Merapi pada 2001; pada 2002 namanya berubah menjadi PT BPR Bhakti Sumekar dan direlokasi ke Sumenep, sebelum dikonversi menjadi BPRS pada 2003.
Kini, bank tersebut merupakan perusahaan perseroan daerah milik Pemkab Sumenep. Dengan kata lain, nama dan sejarah bank itu sendiri membawa gagasan tentang daerah.
Syifa, barangkali tanpa kesadaran teoritis, telah menangkapnya melalui gambar.
Sumekar sebagai Metafora
Di sinilah saya kira lukisan Syifa dapat dibaca lebih jauh.
Jika sekar adalah bunga, dan sumekar adalah keadaan ketika bunga berkembang atau merekah, maka nama Sumekar dapat diperlakukan sebagai metafora yang sangat tepat untuk membaca lukisan ini.
Sebab apa yang dilakukan Syifa sebenarnya adalah membuat Sumenep mekar di atas kanvas.
Ia tidak melukis Sumenep dengan peta. Ia tidak melukis kepulauan. Ia tidak menggambar laut yang mengitari pulau-pulau. Ia lebih memilih beberapa tanda yang menurut pandangan seorang anak cukup untuk mengatakan: "Inilah tempat saya hidup!"
Musala adalah akar spiritualnya. Sekolah adalah masa depannya. Bank adalah denyut ekonominya. Keluarga adalah manusianya. Bendera sebagai identitas kebangsaan.
Tempat sampah disajikan sebagai kesadaran tentang ruang bersama, dan pepohonan, adalah alam yang masih menyertai semuanya.
Satu per satu, elemen itu seperti kelopak. Bersama-sama, ia membentuk bunga bernama Sumenep.
Di sini judul Bhakti Sumekar memperoleh lapisan yang tak terduga. Bukan hanya nama bank yang kebetulan masuk ke dalam lukisan, melainkan sebuah frasa yang dapat dibaca sebagai pengabdian kepada sesuatu yang sedang tumbuh.
Hendra Gunawan dan Cara Melihat yang Tidak Akademis
Untuk membaca cara Syifa menyusun dunia, Hendra Gunawan adalah pembanding yang lebih berguna daripada pelukis realis.
Bukan karena Syifa sudah mencapai kualitas Hendra. Jelas belum. Keduanya memiliki satu kemungkinan bahasa yang sama, bahwa kenyataan tidak harus disalin untuk dapat dikatakan benar.
Dalam "Menguliti Pete", misalnya, Hendra menggambarkan kehidupan rakyat secara naif dan ekspresif. Warna dan goresannya tidak semata-mata mengikuti kenyataan visual, tetapi membangun irama kehidupan.
Galeri Nasional menyebut karya itu sebagai gambaran ekspresif kehidupan rakyat dengan ungkapan naif dan warna yang secara intuitif menjalin bentuk.
Hendra bahkan dikenal kuat dalam menggambarkan pasar, kampung, revolusi, ibu-anak dan kehidupan rakyat dengan warna yang hidup dan kelembutan yang khas.
Syifa berada di wilayah yang sangat jauh dari kematangan itu. Tetapi nalurinya menarik.
Ia tidak bertanya bagaimana kota itu secara optis terlihat. Ia bertanya, secara intuitif: "Apa saja yang membuat saya mengenali kota ini?"
Maka muncullah tulisan BANK BPRS BHAKTI SUMEKAR. Muncul tulisan SEKOLAH. Muncul MUSYOLAH. Muncul tempat sampah. Muncul bendera.
Syifa melukis identitas benda, tapi tentu bukan sekadar benda.
Itulah salah satu ciri paling menarik dari karya anak yang belum dibelenggu oleh pendidikan akademik. Ia belum merasa harus patuh kepada perspektif, anatomi, proporsi atau cahaya. Ia lebih sibuk memastikan bahwa pesan visualnya sampai.
Perspektif yang Salah adalah Ingatan yang Benar
Secara akademis, perspektif lukisan ini tidak konsisten.
Atap sekolah di sebelah kanan mengembang secara ekstrem. Jalan merah hampir menjadi bidang datar. Bangunan-bangunan tidak seluruhnya tunduk pada satu titik hilang. Proporsi manusia dan arsitektur juga belum stabil.
Tetapi di sini kritik seni harus berhati-hati. Sebab, yang disebut “kesalahan” dalam perspektif optis bisa menjadi kebenaran dalam perspektif ingatan. Yang penting bagi Syifa bukan jarak geometris, melainkan jarak psikologis.
Apa yang penting dibesarkan. Apa yang harus dikenali dibuat jelas. Apa yang dekat dengan pengalaman anak diberi tempat.
Dalam logika itu, gedung BPRS Bhakti Sumekar memang pantas berada di tengah. Ia bukan semata gedung; ia adalah tanda yang dikenali.
Sekolah juga bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat anak menghabiskan sebagian hidupnya. Musala bukan semata arsitektur, ia adalah bagian dari lanskap sosial. Sedangkan keluarga menjadi manusia yang menghubungkan semua tanda tersebut.
Saya kira, dalam lukisan itu, Syifa sebenarnya memang tidak sedang ingin menggambar ruang. Ia sedang menggambar hubungan.
Kota dan Masyarakat
Perhatikan pula posisi keluarga.
Ayah, ibu dan anak ditempatkan di depan bangunan-bangunan itu. Mereka bukan sekadar penghias komposisi. Mereka adalah subjek yang membuat seluruh kota mempunyai alasan untuk ada.
Bank ada untuk manusia. Sekolah ada untuk manusia. Musala ada untuk manusia. Ruang publik ada untuk manusia. Tempat sampah pun ada karena manusia berbagi ruang.
Dengan demikian, kalau bangunan-bangunan di belakang merupakan institusi, keluarga di depan adalah masyarakat.
Lukisan itu lalu dapat dibaca seperti sebuah konstruksi sosial sederhana: agama — ekonomi — pendidikan — keluarga — lingkungan.
Semua itu berada dalam satu ruang yang damai, dan di situlah barangkali, Syifa sengaja hendak memperlihatkan keterbatasannya sekaligus kekuatannya.
Ia belum menggambar masyarakat yang sesungguhnya rumit. Tidak ada kemiskinan, konflik, kesenjangan, pekerjaan berat, kemacetan, kesepian, atau pertengkaran. Tidak ada sisi gelap kota.
Tetapi mungkin justru karena itulah lukisan ini penting. Ia bukan potret realitas. Ia adalah potret harapan.
Kota yang Belum Mengenal Konflik
Ini yang membedakan Syifa secara mendasar dari Hendra Gunawan.
Hendra membawa kehidupan rakyat ke dalam kanvas bersama segala gerak, kerumunan, kerja, kelelahan dan kelembutannya. Syifa justru mengambil kehidupan yang telah disederhanakan menjadi simbol-simbol yang harmonis.
Hendra melukis rakyat yang hidup. Sementara, Syifa melukis masyarakat yang diharapkan hidup dengan baik.
Karena itu, figur-figurnya berdiri dengan tenang. Bangunan-bangunan tegak tanpa persoalan. Tempat sampah tersedia. Sekolah ada. Musala ada. Bank ada. Bendera berkibar.
Tidak ada yang sedang berkonflik dengan yang lain. Maka seorang kritikus mungkin akan mengatakan: "Kota ini terlalu baik untuk menjadi kenyataan".
Tetapi bukankah di situlah dunia anak bekerja?
Ia belum selalu melihat masyarakat sebagai pertarungan kepentingan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang seharusnya tertib.
Dan, seorang seniman sering kali memulai perjalanan justru dari sana. Dari jarak antara dunia yang ada dan dunia yang ia inginkan.
Merah sebagai Mekarnya Dunia
Secara visual, merah adalah keputusan Syifa yang paling berani.
Merah menjalari atap, lantai, bahkan suasana keseluruhan. Ia membuat lukisan terasa hangat sekaligus riuh. Di atas merah itu, hijau, kuning, putih dan biru bekerja seperti kelopak-kelopak yang muncul dari satu dasar.
Menarik jika warna tersebut dibaca kembali melalui metafora sumekar. Bunga tidak mekar dengan satu warna. Ia mekar melalui pertemuan warna.
Begitu pula Sumenep yang dibayangkan Syifa. Bahwa Kota Sumenep di sebut kota karena ia ada tidak tunggal, tetapi terdiri atas banyak lapisan. Ada agama, pendidikan, ekonomi, keluarga, alam, dan kebangsaan.
Di luar lukisan, metafora itu memang menemukan konteks yang lebih luas. Sumenep merupakan wilayah daratan dan kepulauan. Pemerintah daerah sendiri menyebut kondisi geografis tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan layanan BPRS.
Jika kita memperluas pembacaan itu, diksi kata Sumekar seolah tidak hendak menyuguhkan bunga mekar, tapi daerah yang tumbuh dari keragaman. Pulau-pulau, kebudayaan, masyarakat, tradisi dan kekayaan hayati yang tersebar dari daratan sampai kepulauan.
Maka sebuah bank daerah bernama Bhakti Sumekar yang muncul di tengah lukisan seorang anak Sumenep menjadi hampir seperti metonimi daerah itu sendiri.
Ia membawa nama daerah ke dalam kanvas.
Dunia Belajar Syifa
Saya kira terlalu mudah mengatakan, “Syifa adalah pelukis cilik berbakat.”
Yang lebih menarik adalah bertanya, "Apa yang sedang dipelajari Syifa ketika ia melukis?"
Ia sedang belajar bahwa sebuah kota dapat direduksi menjadi sejumlah tanda. Ia sedang belajar bahwa warna dapat menggantikan kenyataan, bahwa bangunan dapat menjadi simbol, bahwa keluarga dapat menjadi pusat cerita.
Dan, mungkin tanpa disadarinya, ia sedang belajar bahwa nama sebuah tempat mengandung gagasan tentang tempat itu sendiri.
Bhakti itu pengabdian. Sumekar berasal dari kata mekar.
Di bawah nama itu, Syifa melukis sebuah kota yang ingin tumbuh. Religius tetapi tidak tertutup, memiliki ekonomi tetapi tidak kehilangan manusia, memiliki sekolah tetapi tetap memiliki keluarga, memiliki pembangunan tetapi tidak melupakan lingkungan.
Apakah itu benar-benar Sumenep?
Tentu tidak sepenuhnya. Tetapi itulah Sumenep yang sedang tumbuh di kepala seorang anak.
Saya kira, karya seni tidak selalu harus menunjukkan kenyataan sebagaimana adanya. Kadang ia justru penting karena menunjukkan kenyataan sebagaimana seseorang ingin melihatnya.
Masa Depan Lukisannya
Karena itu, saya tidak berharap Syifa menjadi pelukis yang semakin pandai menggambar gedung.
Itu perkara latihan. Saya justru berharap ia kelak berani mengganggu keteraturan lukisannya sendiri. Biarkan suatu hari ada pedagang di depan sekolah.
Biarkan ada nelayan membawa hasil laut. Biarkan ada perempuan menjemur ikan. Biarkan ada anak berlari menuju musala. Biarkan ada orang menunggu di depan bank. Biarkan ada kapal di laut.
Biarkan ada pulau di kejauhan. Biarkan ada pasar yang riuh. Biarkan ada sampah yang harus dibersihkan. Biarkan ada orang yang berbeda pendapat.
Dengan begitu, Sumekar tidak lagi sekadar berarti bunga yang mekar, tetapi kehidupan yang bergerak.
Sebab tugas seorang pelukis pada akhirnya bukan membuat dunia tampak indah. Tugasnya adalah membuat kita melihat dunia dengan cara yang sebelumnya tidak kita pikirkan.
Dalam lukisan ini, Syifa belum sampai sejauh itu. Tetapi ia sudah mengetuk pintunya. Dan yang mengetuk itu bukan sekadar tangan seorang anak yang sedang belajar menggambar.
Dalam lukisan itu, aku melihat Syifa seperti sedang membaca sebuah cara pandang yang sedang mekar.***

