Ia dikenal jarang pulang karena ingin fokus menimba ilmu. Keinginannya melanjutkan pendidikan bahkan membawanya bermimpi pergi ke Mesir.

‎Bagi keluarga, semangat belajar itu menjadi salah satu hal yang paling mereka kenang.

‎Dani juga bukan anak yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ketika kedua orang tuanya berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, dialah yang mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga.

‎"Dani yang mengurus rumah selama saya berangkat ke Tanah Suci. Saya juga meminta izin kepada kiai," tutur H. Hayat mengenang putranya. (2/11/26).

‎Namun, perjalanan hidup yang sedang dirintis Dani berhenti sebelum cita-citanya tercapai.

‎Ia meninggal pada 13 Oktober 2026 setelah menjalani perawatan selama dua hari di RS BHC Sumenep.

‎Kepergiannya menyisakan kehilangan besar bagi keluarga, terlebih karena Dani merupakan anak satu-satunya.

‎Ada satu tanggal yang semestinya menjadi hari bahagia. Pada 27 Oktober 2026, Dani dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda.

‎Tetapi, alih-alih mengenakan pakaian wisuda dan menerima hasil perjuangannya menuntut ilmu, keluarga justru melewati hari itu tanpa kehadirannya.

‎H. Hayat mengaku berusaha menerima kematian putranya sebagai ketentuan Tuhan.