Ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Namun, keikhlasan tidak serta-merta menghapus kebutuhan keluarga untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kami tetap menunggu hasil keputusan rumah sakit," tegasnya.
Tak lama setelah perbincangan berlangsung, Hj. Siti Nor Hayati, ibu Dani, tiba di rumah. Perempuan yang akrab disapa Hj. Hayati itu baru pulang berjualan sembako di Pasar Anom Baru Sumenep.
Kesedihan masih terasa dalam ucapannya. Ia memilih menyerahkan nasib putranya kepada Tuhan.
"Amin, amin. Semoga surga untuk anak saya, Dani," ujarnya.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kehilangan seorang ibu yang harus menerima kenyataan bahwa anak yang dibesarkannya lebih dahulu pergi.
Makam yang menyimpan pertanyaan
Setelah berbincang di rumah duka, wartawan bersama keluarga menuju pemakaman Dani. Jaraknya sekitar 500 meter dari kediaman.
H. Asnawi, kakek Dani, ikut mengantar. Langkahnya menuju makam cucu semata wayangnya itu disertai cerita tentang bagaimana ia menjadi salah satu anggota keluarga yang sejak awal mempertanyakan kematian Dani.
"Ini kuburannya Dani, Dek," ucap Asnawi sambil menunjuk pusara cucunya.

